BERAMALLAH SEBELUM TAMU TERAKHIR MENGUNJUNGIMU

“tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(Q.S. Ali Imran (3) :185)

Bila kita mendengar berita tentang kematian seseorang , tentu kita akan merasakan sesuatu yang berbeda. Ada perasaan yang tidak semestinya, datanglah perasaan sedih, gemetar dan bahkan takut. Karena berita kematian itu merupakan peringatan untuk kita semua. Dan kita akan teringat waktu yang telah dijanjikan dan menunggu gilitran dipanggil oleh malaikat ijrail. Sebagai muslim tentu kita meyakini bahwa setiap manusia akan mengalami kematian.


Tentu yang kita harapkan dari kematian itu adalah menjadi khusnul khotimah (akhir yang baik ). Yang terpenting bagi seorang muslim adalah bukan dimana dan kapan ia meninggal, tetapi dalam keadaan bagaimana ia meninggal. Karena Allah SWT telah memperingatkan hambanya dengan Firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada allah sebenar-benar takwa kepada-nya;dan janganlah sekali kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam. “(Q.S. Ali Imran).

Memahami Hakikat Kematian

Kematian menurut imam al-qurtubi didalam at-tadkirah nya mengatakan, merupakan peristiwa terputusnya hubungan roh dengan jasad, terpisahnya jiwa dari raga, pergantian keadaan, dan perpindahan dari satu tempat ketempat lain. Kematian merupakan musibah yang sangat besar. Sebagaimana firman Allah swt “lalu kamu ditimpa bahaya kematian“ (Q.S. Ali Imran, 3:106). Tetapi menurut para ulama musibah yang lebih besar lagi ialah lupa pada kematian itu sendiri.

Kematian merupakan suatu kepastian dan setiap manusia pasti akan merasakannya. Sebagaimana Firman Allah SWT diatas Q.S.Ali Imran, 3: 185. karena kematian suatu kepastian merupakan sebuah keharusan bagi manusia untuk mempersiapkannya, karena semua manusia tidak akan mampu mengetahui di mana dan kapan ia meninggal. Bila ajal sudah tiba maka tidak ada yang mampu mengakhirkan nya ataupun memajukan nya.

“katakanlah: “sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan “. (Q.S. Al-Jumu’ah :62:8)

Kerahasian waktu datangnya kematian merupakan hikmah ilahiyah tersendiri yang harus disyukuri. Karena dengan demikian kita semua harus selalu waspada dan mempersiapkan bekal untuk itu. “…Berbekal lah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-ku Hai orang-orang yang berakal. “(Q.S. Al-Baqarah : 97). Dan dalam kerahasian waktu datangnya kematian itu juga terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mau berfikir dan mengambil nya sebagai pelajaran.

Karena hal ini rasulullah saw bersabda: “seandainya binatang itu tahu akan kematian seperti yang kamu ketahui, niscaya kamu tidak akan makan binatang yang gemuk daripadanya” (H.R. Baihaki)

Ingat mati dan persiapan menyambutnya

Sebagai seorang muslim dilarang berputus asa didalam mengarungi kehidupan, dan hendaklah selalu menyadari bahwa kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia selalu pasang surut adakalanya berjalan baik atau bahkan sebaliknya. Dan semua itu merupakan bentuk ujian (antara yang baik dan tidak baik) yang diberikan Allah SWT.

Untuk mengetahui kualitas iman seseorang, benarkah ia benar-benar beriman atau hanya berpura-pura atau bahkan sebalik nya. Hal ini disinggung oleh Allah SWT dengan Firman-Nya , “apakah manusia itu mengira bahwa mereka di biarkan (saja) mengatakan: “kami telah beriman “, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang – orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Ia mengetahui orang-orang yang dusta. “(Q.S. Al-Ankabut:2-3).

Banyak nya ujian hidup yang dialami seseorang hendak lah ia bersabar dan tidak boleh menginginkan kematian menjemputnya. Ketika seseorang berdoa mengharapkan kematian karena ditimpa ujian hidup, perbuatan ini merupakan sikap pesimis atu putus asa, padahal sikap pesimis adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Rosulullah SAW bersabda : “janganlah salah seorang diantara kalian mengharapkan kematian karna cobaan yang tengah menimpanya. Jika memang ia harus mengharapkan kematian, hendaklah ia berdoa, ya Allah, peliharalah hidupku jika memang itu terbaik untuk bagiku, dan matikanlah aku jika itu yang terbaik bagiku”(H.R. Bukari-Muslim)

Agama islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan nasihat kepada umatnya agar selalu mengingat mati dan mempersiapkan dengan baik. Sebagaimana dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ibnu Umar berkata, “Aku mendatangi nabi SAW sebagai orang kesepuluh diantara sepuluh sahabat yang datang kepada beliau karena itu. Lalu seseorang dari kaum anshor berdiri dan berkata, wahai Nabi Allah, siapakah manusia manusia yang paling cerdik dan paling pandai? Rosulullah SAW menjawab, manusia yang paling banyak mengingat kematian dan paling banyak menyiapkan diri untuk menghadapi kematian; mereka inilah yang paling cerdik. Mereka pergi dengan kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat”.(H.R. Ibn Majah)

Salah satu tanda orang yang cerdik (cerdas) yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW adalah orang yang selalu mengingat mati dan menyiapkan diri untuk menghadapi kematian. Menyiapkan kematian tentu tidak hanya persiapan yang tiba-tiba dan tidak terencana. Dunia yang kita singgah i ini hanya tempat sementara dan perjalanan hidup ini bukan berakhir pada kematian itu sendiri tetapi akhir dari perjalanan itu adalah alam akhirat. Suatu tempat memetik hasil amal perbuatan ketika hidup didunia ini. Banyak cara yang dapat manusia perbuat ketika hidup di dunia ini. Banyak cara yang dapat manusia perbuat untuk mempersiapkan diri untuk kepentingan setelah kematian kelak.

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Q.S. Al- Munafiqun : 10). Rasulullah SAW bersabda, “cukuplah kematian itu membuat seseorang zuhud (tidak tergoda ) dari dunia dan cinta kepada akhirat”(H.R. Ahmad)

Menggapai Husnul Khatimah

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba. Maka Dia membuatnya amal (kebaikan). “para sahabat bertanya, “bagaimana dia membuatnya melakukan amal kebaikan?”beliau menjawab, “Dia membimbingnya untuk untuk melakukan amal shaleh sebelum meninggal dunia, kemudian mencabut nyawanya”.(H.R. Ahmad dan Turmudzi).

Di akhir tahun ini marilah kita siapkan perencanaan yang matang, amal apa yang akan kita kontribusikan di tahun yang akan datang. Ingatlah, bukan seberapa amal banyak yang telah kita lakukan, tetapi amalan terbaik apa yang telah kita kontribusikan?

0 comments:

Post a Comment